Tampilkan postingan dengan label Places of Interest. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Places of Interest. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 Desember 2009

10 Fakta Menyedihkan Tentang Kota Jakarta


Berawal dari keterpaksaan, saya tinggal di kota ini. Lama-lama rasa terpaksa menjadi biasa dan semakin lama saya menjadi semakin mencintai kota ini. Berawal dari kecintaan inilah saya menulis tentang beberapa hal menyedihkan tentang kota ini.

Dalam edisi Kompas cetak beberapa hari lalu ada ulasan mengenai film ‘Slumdog Millionaire’ yang menceritakan sisi-sisi gelap kehidupan kota Mumbai, kota terbesar di India, yang menurut sang produser adalah kota yang gagal. Saya tergelitik oleh pernyataan si penulis bahwa kemungkinan Jakarta juga sedang mengambil jalan menuju kegagalan. Mungkin pernyataan itu ada benarnya.


Berawal dari keterpaksaan, saya tinggal di kota ini. Lama-lama rasa terpaksa menjadi biasa dan semakin lama saya menjadi semakin mencintai kota ini. Berawal dari kecintaan inilah saya menulis tentang beberapa hal menyedihkan tentang kota ini.

Dalam edisi Kompas cetak beberapa hari lalu ada ulasan mengenai film ‘Slumdog Millionaire’ yang menceritakan sisi-sisi gelap kehidupan kota Mumbai, kota terbesar di India, yang menurut sang produser adalah kota yang gagal. Saya tergelitik oleh pernyataan si penulis bahwa kemungkinan Jakarta juga sedang mengambil jalan menuju kegagalan. Mungkin pernyataan itu ada benarnya.

Hanya sedikit warga Jakarta yang peduli pada sejarah kotanya sendiri

Adolf Heuken pernah diprotes, kenapa beliau hanya menulis bukunya yang terkenal “Historical Sites of Jakarta” dalam bahasa Inggris. Menurut beliau itu karena warga Jakarta sepertinyat tidak tertarik akan sejarah kotanya sendiri.Buku itu memang akhirnya diterbitkan juga dalam bahasa Indonesia atas permintaan banyak pihak, namun pernyataan Heuken perlu direnungkan.

Kalau melihat banyaknya bangunan tua bersejarah di kawasan kota lama Batavia yang dibiarkan dalam kondisi terlantar, kawasan bersejarah seperti segitiga Senen yang beralih fungsi menjadi kawasan komersial modern atau hilangnya Hotel Des Indes untuk dijadikan kawasan pertokoan Duta Merlin yang tanpa karakter, atau digusurnya gedung Societet de Harmonie, semakin hilangnya karakter pecinan di kasawan Kota dan masih banyak lagi, mungkin memang benar bahwa warga Jakarta kurang peduli pada sejarah kotanya.

Sesuatu hal yang menyedihkan karena dengan hilangnya monumen sejarah itu hilang pula kolektif memori warga Jakarta.

Jakarta sedang menuju bunuh diri ekologis

Tidak bisa disangkal kawasan hijau di Jakarta semakin berkurang. Bahkan daerah resapan air dan paru-paru kota juga sudah banyak berubah menjadi kawasan komersial. Check this : Hutan Simpang Tomang yang dulunya adalah sabuk hijau kota sekarang sudah menjadi Mal Taman Anggrek. Daerah persawahan dan rawa di Kelapa Gading sekarang sudah menjadi kawasan hiburan, perumahan dan komersial. Wilayah Sunter yang dulunya adalah daerah resapan air sudah menjadi kawasan permukiman dan pabrik. Kawasan hutan bakau Pantai Kapuk sekarang sudah menjadi daerah perumahan elit. Hutan Kota Senayan yang dulunya khusus diperuntukkan bagi paru-paru kota sekarang padat dengan berbagai mal dan bangunan perkantoran. Tidak heran peta genangan banjir semakin tahun semakin luas.

Jangan salahkan anak-anak yang bermain bola di jalanan, lah, lapangannya mana?

Kasian sekali anak-anak yang besar di Jakarta, tidak ada tempat bermain, jangankan lapangan bola, taman kecil tempat bermain ayunan atau bermain kelereng pun sudah tidak ada lagi. Ruang terbuka public di Jakarta sudah semakin berkurang dan sepertinya tidak pernah mendapat perhatian. Mungkin pemerintah Jakara berpikir untuk apa ada ruang terbuka public toh warganya juga sudah tidak punya waktu lagi untuk berinteraksi satu sama lain.

Mau becak, bemo, bajaj atau busway, semuanya sami mawon, tidak aman dan tidak nyaman.

Bus umum terutama metromini memang sudah terkenal banyak copet dan kalau lagi apes bisa juga bertemu garong atau dipalak preman. Tapi siapa nyana naik becak pun bisa dirampok. Busway yang rencananya akan jadi pahlawan angkutan umum Jakarta pun ternyata tidak nyaman. Tengok saja antrian busway yang panjangnya bisa sama dengan antrian Bantuan Langsung Tunai alias BLT. AC dan TV di halte busway yang awalnya dingin dan menyala terus pun sekarang sudah mati semua. Copet juga tidak ketinggalan ikut meramaikan busway. Kalau di dalam bis biasa atau metromini copet cukup berpakaian casual, bahkan aksesoris kebanggaan mereka seperti rantai dan anak kunci masih melekat d ibadan, maka kalau di dalam busway, para copet berpakaian sangat rapi layaknya karyawan, bahkan dandanan mereka bisa lebih rapi dan lebih harum daripada penumpang yang notabene adalah karyawan kantoran betulan.

Antara penjalan kaki dan warung kaki lima, eh ya yang digusur koq ya pejalan kaki...

Repotnya jadi pejalan kaki di Jakarta, sudah jalannya hanya seukuran pinggul orang dewasa, mesti bersaing pula dengan pedagang kaki lima dan parkiran liar. Pemerintah kota Jakarta sepertinya tidak pernah memperhatikan pejalan kaki, jangan harap ada trotoar lebar di seluruh kota Jakarta. Trotoar yang lebar hanya ada di secuil ruas jalan Thamrin Sudirman. Kalau ada trotoar nganggur sedikit saja, pasti langsung diisi oleh pedagang kaki lima atau parkiran sepeda motor liar atau bahkan trotoar dipakai pula untuk perlintasan kendaraan roda dua saat jalanan macet.

Kalau masuk kantor jam 8 pagi, dari rumah jam 6 pagi. Kalau masuk kantor jam 7 pagi, sebaiknya nginap saja di kantor.

Kemacetan lalu lintas adalah makanan sehari-hari warga Jakarta atau mereka yang bekerja di Jakarta. Beruntung mereka yang masih punya secuil lahan untuk ditinggali di kota Jakarta. Karena kawasan permukinan sudah semakin bergeser ke arah pinggiran, semakin banyak kaum komuter yang masuk ke kota Jakarta setiap hari. Saking padatnya kendaraan di pagi dan sore hari, semakin lama pula waktu yang terbuang di perjalanan. Orangtua harus berangkat pagi hari sebelum anak-anak bangun dan baru bisa tiba kembali di rumah setelah anak-anak tidur. Cara untuk mengatasi kemacetan? Tidak ada. Satu-satunya pilihan hanya bagaimana menikmatinya saja.

Katanya Molenvliet dulunya adalah Queen of the East, katanya......

Kota Paris yang indah punya sungai yang membelahnya menjadi dua. Kota Jakarta juga punya Molenvliet. Sungai ini membelah kota Jakarta dari Utara ke Selatan. Sekarang, area Molenvlieat adalah daerah seputar Jl. Gajah Mada dan Hayam Wuruk. Dahulu daerah ini adalah permukiman elit warga negara Belanda dan warga keturunan Tionghoa. Kawasan ini sangat indah karena banyaknya rumah mewah gaya kolonial dengan taman-taman yang luas. Kawasan in pulalah yang menyebabkan kota Batavia di abad 17 diberi julukan Queen of the East.

Apa yang tersisa saat ini sungguh sangat menyedihkan. Salah satu rumah mewah Belanda yang masih tersisa di kawasan ini dan masih terawat baik adalah Gedung Arsip Nasional yang dulunya adalah rumah Reiniers Klerk van Middelburg, mantan Gubernur Jendral Belanda. Citra kawasan ini sebagai kawasan indah ala Eropa saat ini sudah tidak terlihat lagi. Bangunan kolonial sudah diganti dengan deretan ruko, pub, panti pijat, dan hotel hotel kelas murah.

Asap benar-benar membuat mabuk!

Hidup di Jakarta mau tidak mau harus bersahabat dengan asap. Mulai dari asap rokok hingga asap kendaraan bermotor. Berdasarkan penelitian yang pernah saya baca entah dimana, paparan CO2 yang terlalu tinggi pada tubuh manusia bisa menyebabkan IQ alias kecerdasan bisa menurun hingga beberapa point. Sayang belum pernah ada penelitian yang membuktikan bahwa IQ anak-anak Jakarta dan sekitarnya lebih rendah daripada IQ anak-anak di daerah luar Jakarta. Tapi siapa pula peduli pada otak yang cerdas, karena di Jakarta apa saja bisa jadi duit. Tapi terlepas dari soal IQ, asap benar-benar menurunkan kualitas kesehatan di kota Jakarta.

Seperti apa sih budaya asli warga Jakarta?
Selama beberapa tahun tinggal di kota ini, budaya asli warga Jakarta yang pernah saya lihat hanya ondel-ondel yang muncul setiap tujuh belasan dan setiap kali ada acara Jakarta Fair. Katanya musik asli orang Betawi yang warga asli Jakarta adalah Gambang Kromong, seperti apa bunyinya, mana saya tahu. Katanya setiap kali Lebaran, ada dodol khas bikinan orang Betawi, seperti apa rasanya, mana saya tahu. Sampai sekarangpun saya masih penasaran seperti apa budaya asli Jakarta. Semoga saja suatu saat saya bisa melihat produk asli warga Jakarta sebelum keburu dicekal seperti tari Jaipong.

Kolong jembatan, pinggir rel kereta, atau di mana saja deh, kalau mau bisa saja dibuat rumah.

Permukiman kumuh ada di mana-mana, dari yang legal sampai yang illegal. Masalah kependudukan mungkin memang sudah terlalu ruwet untuk diatasi.
Dalam kumpulan foto tentang daerah kumuh karya Jonas Bendiksen, seorang fotografer muda asal Norwegia terdapat sebuah foto yang menggambarkan kehidupan seorang ibu bernama Asanah yang tinggal bersama suami dan tiga anak remaja di ruangan berukuran dua kali dua meter dengan tinggi 1 meter di bawah kolong jembatan di atas kanal pembuangan sampah kota Jakarta. Tidak ada satupun perabot rumah tangga di dalam rumah kecil itu. Sungguh menyesakkan menyaksikan kehidupan kaum miskin dan sangat miskin di kota ini. Mau digusur atau diremajakan? Tidak ada pilihan yang mudah.

Read More.....

Jumat, 21 November 2008

Ancol Art Market


The story begins in 1975 with only a small and modest compound to house Art Market activity for 3 days and later 7 days a month. The temporary compound of the market was located between ‘Gelanggang Samudra’ and ‘Gelanggang Renang’, Ancol. The market was initially open to induce the creativity of the artist and to increase people’s appreciation of art.


The story begins in 1975 with only a small and modest compound to house Art Market activity for 3 days and later 7 days a month. The temporary compound of the market was located between ‘Gelanggang Samudra’ and ‘Gelanggang Renang’, Ancol. The market was initially open to induce the creativity of the artist and to increase people’s appreciation of art.

Having been successful in attracting buyer and artist from all over Indonesia, the market eventually become permanent. In 17 December 1977, Jakarta’s Governor officially re-opened the market. The market consist of 114 kiosk which consist of various art workshop and shop that sold various art and craft products particularly paintings and sculptures. Along with these kiosk, there emerge various food and beverages stalls all around the market.

Along with the growth of the market and also to satisfy demand from customer more kiosk was added. In 22 August 1980, a second part of the market, which is known as Ancol Art Market II was officially open for the public. This part of the market house 97 kiosks which mainly used as art workshop in which the customers are given the chance to witness the creative process of the art.

In 17 February 1984, a new gallery was established named “Galeri Jaya Ancol”. This gallery is a two stories building where the first floor is used to display various science models to attract the interest of young generation to science. The second floor is used for art display where various artist can display their work.

Activity

Art Performance

In the centre of the market area there is an open stage where various artist performs both traditional and modern art, from dancing to music recital. The performers come from both within and outside Indonesia.

During the 80's there was also a Live Jazz Music performance every friday night. However this event was no longer held in this place today.


Exhibition

Various exhibitions and competitions are sometimes held in this place such as Photography competition, Puppet competition, etc.


Art Kiosks and Workshop

The goods sold consist of various art and craft from across Indonesian archipelago from traditional fabric such as batik, songket, etc to pottery and wooden craft.

In the gallery there is also a “Science Park” where display of various science models are placed.


Art Studio

The art studios are referred to many paintings workshops where the painters from different genre from naturalist to abstract create their art and sell it to the visitors. The visitor can see how is the artist in their creative process and the visitor can even sometimes involve it the creative process itself. Many visitors sometimes ask the painters to paint them on the spot. The spot give just the right atmosphere for interaction between the artist and the visitors and between one artist and another.


Ancol Art Market today

The market had seen its days of glory in the 80’s but along with the emergence of many art galleries all around Jakarta, this market which was once had give birth to many great artist such as Nyoman Gunarsa, Abbas Alibasjah, Sudarso dan Amrus Natasya.had now lost its popularity.

Many artists had now preferred to sell their work in various shopping centre, mall, hotels, or other more prestigious or well known gallery

This conditions is worsened by the fact that not many art events or exhibitions held in the market to attract visitors. But still in this commercially non conducive environment, many artists are still trying to exist and maintain their creative spirit.

From various sources
Photograph : Utun L Kartakusumah

Read More.....